GALENA (Pb)

Posted: November 29, 2008 in 1

Galena atau dikenal sebagai timah hitam di alam berupa senyawa PbS. Apabila unsur sulfida dominan pada batuan galena, secara fisik terasa aroma sulfida di lokasi batuan tersebut. Mineral yang biasanya ditemukan dekat galena antara lain sphalerit, pirit dan kalkopirit.

Galena banyak dijumpai di sekitar batuan metamorf dan batuan beku. Galena tersebut membentuk suatu jalur di antara rekahan batuan beku dan metamorf. Singkapan mineral galena ini bisa terlihat di lereng bukit atau tepian sungai di daerah batuan metamorf. Pada beberapa tempat, mineral galena ini berdekatan dengan unsur lain seperti tembaga (Cu). Apabila unsur Cu juga dominan pada mineral galena,  Batuan galena Indonesia saat ini kebanyakan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri di China.

Metode eksploitasi galena umumnya menggunakan peledakan atau secara tradisional membuat suatu jalur bawah tanah (terowongan) diantara rekahan batuan beku. Daerah sebaran  galena antara lain berada di Aceh Timur – Nangroe Aceh Darussalam, Pasaman – Sumatera Barat, Ponorogo – Jawa Timur dan Wonogiri, Jawa Tengah.

TEMBAGA (Cu)

Posted: November 29, 2008 in 1

Tembaga atau copper memiliki nama kimia cuprum atau disingkat Cu. Keterdapatan tembaga di alam sebagai native copper termasuk jarang. Sebagian besar berasosiasi dengan sulfur atau produk teroksidasi dari mineral tersebut. Deposit yang biasa ditambang merupakan mineral azurite (Cu3(CO3)2(OH)2), malachite (Cu2CO3(OH)2), tennantite ((Cu,Fe)12As4S13), chalcopyrite (CuFeS2), dan bornite (Cu5FeS4). Tembaga merupakan logam yang memiliki sifat fisik malleable dan ductile. Malleable bearti dapat ditempa dan dibentuk, sedang ductile berarti dapat dibentuk menjadi seperti kabel. Kondukrtivitas termal dan elektriknya sangat tinggi. Mineral dengan nodul kaya magnesium, tembaga, dan logam lain banya dihasilkan dari aktivitas volkanik laut dalam.
Sifat fisik tembaga ini memiliki warna kemerahan, dengan struktur banding. Pada kondisi liquid, memiliki kenampakan bercahaya kehijauan. Struktur electron dan posisi dalam table periodic mirip dengan logam emas dan perak. Tembaga tidak bereaksi dengan air, namun dapat teroksidasi pada suhu ruangan membentuk lapisan korosi coklat kehitaman.
Sumber tembaga dunia terdapat di USA, Australia, Kanada, Chile, Meksiko, Rusia, Peru, dan Indonesia. Penggunaannya dalam bentuk murni adalah sebagai kabel transmisi, perlengkapan elektronik, pipa dan tube, peralatan rumah tangga, serta pelapis nikel, krom, dan seng. Digunakan pula sebagai campuran/ alloy dengan seng (kuningan), tembaga dengan nikel (monel), tembaga dengan timah (perunggu).

MANGAN (Mn)

Posted: November 29, 2008 in 1

Mangan merupakan mineral berwarna putih – abu-abu, seperti besi tapi lebih keras dan sangat rapuh. Biasanya digunakan dalam campuran baja untuk meningkatkan karakteristik campuran tersebut, seperti kekerasan. Mineral mangan juga digunakan untuk mewarnai gelas menjadi berwarna merah amethyst.
Deposit bijih mangan tersebar secara luas pada dasar lapisan batugamping, dalam volcanic tuff, berksi dan sebagainya. Deposit mangan biasanya sangat kecil. Di samping dua lokasi di jawa barat dan jawa tengah, Karangunggal di selatan Tasikmalaya dan Kliripan di barat Pegunungan Progo, ada kemungkinan deposit mangan berada pada lembah batugamping di pegunungan selatan dan kemungkinan di seluruh kepulauan yang memiliki kondisi geologi yang sama dengan selatan jawa. Eksplorasi bijih mangan hanya dapat dilakukan di selatan jawa dan kalimantan bagian tenggara.
Kebanyakan urat emas-perak muda di sumatera dan jawa mengandung mineral mangan, yang kadang terkonsentrasi pada zona oksidasi seperti pada sungai Pagu di sumatera.

BIJIH BESI (Fe)

Posted: November 29, 2008 in 1

Bijih besi merupakan batuan yang mengandung mineral-mineral besi dan sejumlah mineral gangue seperti silika, alumina, magnesia, dan lain-lain. Besi yang terkandung dalam batuan tersebut dapat diekstraksi dengan teknologi tertentu secara ekonomis (Hurlbut, 1971).
Besi merupakan unsur kuat golongan VIII B yang mempunyai nomor atom 26. Kita dapat melihat besi di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari. Segala barang yang harus kuat pasti terbuat dari besi, seperti tiang listrik, jembatan, pintu air, dan kerangka bangunan. Peralatan perang juga semuanya berbahan dasar besi. Tidak hanya barang-barang besar sampai yang berkekuatan raksasa saja yang terbuat dari besi, barang-barang kecil pun banyak sekali yang terbuat dari besi, seperti peniti, paku, pisau, pines, cangkul, kawat dan sebagainya (Widyamartaya, 1983). Kegunaan utama besi adalah untuk membuat baja. Baja tahan karat yang terkenal adalah stainless stell yang merupakan paduan besi dengan 14-18% kromium 7-9% dan nikel (Anonim, 2007).

AREAL TAMBANG DI MANGGANI MASUK KAWASAN HSAW

Posted: November 29, 2008 in 1

Sangat Ironis Di saat ekonomi masyarakat di bagian utara Limapuluh Kota Sedang dililit berbagai persoalan yang cukup pelik,  ternyata pada saat yang sama Mangan yang merupakan salah satu bahan mineral yang bernilai tinggi tambang jenis golongan B  terkuak. Masyarakat pun berbondong  bondong melakukan penggalian tanpa izin serta adanya pihak ke tiga yang menampung hasil galian masyarakat. itulah gambaran pelik yang dialami masyarakal Manggani  tergolong cukup unik. Lokasinya berada pada hutan yang asri dengan akses transportasi cukup bagus sampai ke lokasi mengunakan kendaraan roda empat. Di lokasi tersebut ditemukan tumpukkan mangan yang sudah dimasukkan ke karung dengan jumlah yang sangat banyak.

Diperkirakan jumlah penambang dulunya lebih kurang 300 orang,” kata salah seorang masyarakat yang tidak bersedia ditulis namanya. Saat ini katanya, aktivitas penambangan sudah jauh berkurang karenna adanya lamngan dan Pemkab melalui Dinas; Pertambangan dan Energi Lima puluh Kota bersama Lingkungan Hidup dan BKSDA beberapa waktu lalu. Namun kini yang menjadi permasalahan yang mengapung di tengah masyarakat adalah ketidakjelasan batas Hutan Suaka Alam Wisata (HSAW). Hutan Lindung (HL) serta keberadaan PT Mitra Suplindo Abadi di Manggani. Dipicu alasan ekonomi, masyarakat sekitar lokasi akhimya tetap melakukan aktivitas penainbangan untuk memenuhi kebuluhan hidupnya, meski tidak mengetahui batas lahan.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Limapuluh Kota Yunire Yunirman ST, Msi dikonfirmasi mengatakan. keberadan PT MSA adalah Kuasa Pertambangan Eksplorasi emas yang berlokasi di Manggani yang diterbitkan oleh pemerintah daerah sejak tahun 2002..Lokasi KP emas tersebut katanya berdasarkan Surat Menteri Kehutanan Nomor. S.392/Menhut/IV;2007 tanggal, 15 Juni 2007. Namun lokasi tersebut katanya, temyata berada pada pertambangan harus mengikuti aturan yang berlaku. Terutama menyangkut pada status lahan yang akan diekploitasi. Jadi sebutnya, ada daerah yang boleh dilakukan aktivitas pertambangan dan ada yang tidak boleh ditambang seperti bekas tambang Manggani.
Kita sudah melakukan peninjauan ke lapangan bersama tim terkait. dan sudah diadakan pertemuan dengan muspika kecamatan dalam upaya mencari solusi.” jelas Yunire Yunirman didampingi Narapati Isran Kabid Pengawasan Sambil menunggu upaya Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota unluk mengeluarkan lokasi tersebut dan HSAW melalui usulan tata ruang , maka masyarakat diharapkan bersabafr Karena dalam hal ini.

Pemkab tidak bisa berbuat banyak dan sampai saat ini tidalk pernah mengeluarkan izin untuk ekploitasi mangan di Manggani.  Kepada masyarakat diharapkan untuk tidak lagi melakukan penggalian mangan karena secara aturan tidak dibenarkan. Jika tetapdilanggar, ha! ini bisa berakibat pada tindakan pidana, karena status lahannya adalah HSAW yang terlarang untuk melakukan aktivitas tambang,” ujamya. (jon)

Sumber : Padang Ekspres 5 November 2008

Potensi Biji Besi Sumbar Capai 158,6 Juta Ton

Posted: Juli 3, 2008 in Tak Berkategori

Sumber : http://www.riaumandiri.co.id

PADANG-Sumatera Barat memiliki potensi biji dan pasir besi cukup besar, yang diperkirakan mencapai 158,6 juta ton dengan luas KP (Kuasa Pertambangan) yang telah dikeluarkan mencapai 134.230,1 hektar. Sedangkan, pasir besi diperkirakan mencapai 62.800 M3 dengan luas izin (KP) mencapai 2.578 hektar. Di Pasaman menurut Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumbar Andawarneri, yang didampingi Kasubdin Pengusahaan H. Ell Yawardi, ada 17 perusahaan yang sudah mendapatkan KP bijih besi. Jumlah arealnya mencapai 47.426,9 hektar. Izin perusahaan itu rata-rata KP penyelidikan umum (14) dan eksplorasi (3), sedangkan eksploitasi belum ada, karena status lahannya hampir seluruhnya hutan lindung. “Bila di kawasan hutan lindung, harus memberitahu Dinas Kehutanan dan izin Menteri Kehutanan untuk eksploitasi. Biasanya membutuhkan waktu minimal dua tahun,” beber pria yang akrab disapa Oyong itu.Di Pasaman Barat ada lima perusahaan dengan izin eksplorasi. Luasnya mencapai 13.254,56 hektar. Statusnya di hutan produksi dan hutan lindung. Di Tanah Datar, satu perusahaan eksplorasi yakni PT Selaras Bumi Benua. Kemudian di Sawahlunto Sijunjung. Di Solok 38 perusahaan memiliki KP. Sebanyak 25 perusahaan berstatus eksplorasi, 5 penyelidikkan umum dan lainnya ekploitasi. Jumlah yang sudah berhasil ditambang mencapai 18.200 ton dari perkiraan potensi 37.600.000 ton.

Di Dharmasraya, satu perusahaan eksploitasi dengan produksi tahun 2007 mencapai 21.400 ton pada lahan 200 hektar. Di Solok Selatan, tujuh perusahaan KP yakni penyelidikan umum (2) dan eksplorasi (5). Perkiraan potensi mencapai 121. juta ton pada lahan 13.162,3 hektar.

Pasir Besi
Potensi Padang Pariaman sudah di eksploitasi dua perusahaan, PT Mineral Sukses dan H. Syafei Rajo Bujang. Luasnya mencapai 352 hektar. Begitu juga di Agam, oleh dua perusahaan, PT Andalas Minang Malindo dan PT Insana Data Perkasa pada areal 2.226 hekatare. Di areal PT Andalas potensinya mencapai 62.800 hektar termasuk dalam luas areal 2.580 haktar. Di Pasaman Barat masih inventarisasi. Begitu juga dengan Pesisir Selatan. (sgl,rul)

Regional Geologi Solok

Posted: Juli 2, 2008 in Bijih Besi

Geologi daerah penelitian

Daerah Penyelidikan termasuk kedalam Peta Geologi Lembar Painan skala 1 : 250.000 (S. Gatoer dan Suharsono, dkk., 1996). Berdasarkan pada peta geologi regional ini, maka batuan penyusun di daerah penyelidikan terdiri atas formasi berumur pra-Tersier – Kuarter. Daerah penelitian tersusun atas 4 formasi batuan yaitu formasi barisan (Pb dan Pbl), batuan granitan (Kgr), batuan gunungapi oligo-mio (Tomp) dan alluvium (Qal)

Formasi Barisan (Pb,Pbl) berumur Perm tersusun atas batugamping, meta-sedimen dan batuan metamorf. Terdapat pula urat kuarsa sulfida magmatik pembawa mineral berharga
Batuan granitan (Kgr) berumur Mesozoikum akhir (kapur) tersusun atas batuan granit sampai granodiorit dengan bintik mineral mafik. Batuan ini diasumsikan sebagai intrusi berbentuk stock yang menerobos formasi barisan (batuan sebelumnya)

Batuan gunungapi oligo-mio tersusun atas batuan gunungapi dan sedikit batuan sedimen diantaranya lava, breksi, breksi tuf, ignimbrite, tuf hablur, tuf sela kebanyakan bersusunan andesitan – dasitan. Disebut juga sebagai formasi Painan. Alluvium (Qal) berumur Quarter terdiri atas lanau, pasir, kerikil. Formasi ini yang tampak pada permukaan saat ini

Tektonik Sumatra dipengaruhi oleh interaksi konvergen antara dua lempeng yang berbeda jenis. Arah gerak kedua lempeng terhadap jalur subduksi membentuk sudut lancip sehingga pembentukan struktur geologi di Pulau Sumatra didominasi oleh sesar-sesar mendatar dekstral (right handed wrench fault).

Hubungan struktur geologi satu terhadap lainnya selain mengontrol sebaran batuan di permukaan juga menjadikan daerah ini cukup kompleks secara tektonik. Terbentuknya sejumlah struktur sesar yang cukup rapat ternyata diikuti oleh aktifitas magmatik yang menghasilkan tubuh-tubuh intrusi batuan beku

Aktifitas magmatik inilah yang membawa cebakan mineral bijih. Seluruh batuan penyusun di darah penyelidikan telah mengalami deformasi yang kuat. Produk tektonik di daerah penyelidikan berupa struktur lipatan, kekar dan sesar.

Pembentukan kedua jenis struktur geologi tersebut tidak terlepas dari pengaruh aktifitas tumbukan lempeng yang menyerong antara Lempeng Eurasia yang berada di utara dengan Lempeng India-Australia.

Akibat tumbukan lempeng ini terbentuk jalur subduksi yang sekarang posisinya berada di lepas pantai barat Sumatra, sedangkan di daratan sumatra terbentuk daerah tinggian yang menyebabkan batuan tua tersingkap di permukaan. Pola struktur lipatan dan umumnya berarah baratlaut-tenggara yang terbentuk sejak Pra-Tersier hingga Kuarter. Jenis dan kedudukan struktur geologi ini selanjutnya mempengaruhi pola sebaran batuan/formasi di permukaan.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan diketahui batuan/formasi di daerah penyelidikan menyebar dengan arah baratlaut-tenggara.

Geologi Sejarah Pembentukan Besi

Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan tua, dicirikan dengan penerobosan batuan granitan (Kgr) terhadap Formasi Barisan (Pb,Pbl). Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak magma dengan batuan yang diterobosnya.

Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasal dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik yang banyak mengandung bijih.

Proses terjadinya cebakan bijih besi didaerah penelitian berkaitan dengan proses-proses tersebut diatas, dalam hal ini peristiwa tektonik, metamorfosa dan metasomatisme kontak berperan untuk terjadinya cebakan bijih besi di daerah penelitian. Bila dikaitkan dengan batuan yang tersingkap didaerah penelitian yaitu batuan metamorfosa seperti marmer yang dulunya merupakan batugamping, maka dapat disimpulkan bahwa terbentuknya bijih karena terjadinya proses metamorfosa pada batugamping. Kemudian akibat proses magmatisme pada batugamping terjadi proses penggantian (replacement) sehingga larutan yang mengandung mineral bijih terendapkan bersamaan dengan terbentuknya batuan metamorfosa (marmer).

Setelah proses mineralisasi (pasca-mineralisasi), terjadi kembali peristiwa tektonik setempat yang membentuk sesar mendatar dan sesar normal, struktur tersebut akan membentuk kembali geometri dari cebakan mineral atau akan terjadi dislokasi.

Sumber : aaaris-My Blog